“Orang boleh pandai setinggi
langit, tapi selama ia tidak menulis,
ia akan hilang di dalam masyarakat dan
dari sejarah.
Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”
― Pramoedya Ananta Toer
Mengutip kata Pramoedya dalam
tulisannya di Bumi Manusia di atas,
kemudian tersimpulkan bahwa percuma menjadi orang sepintar dan secemerlang
apapun jika tidak meninggalkan tulisan. Karena waktu terlalu terburu – buru dan
kita teramat lamban untuk memanuskripkan cerita
kita sendiri. Termakan rutinitas,
berkarat oleh cuaca dan usia.
Alangkah mengerikan ketika
kita terbangun di pagi yang cerah dan menyadari bahwa kata “Tua” sudah pantas
disandang, sedangkan kita belum melakukan apa-apa. Jadi tidak ada salahnya untuk
menata ulang cerita merangkum dan memulai lagi menulis blog ini setelah 6 tahun terbengkalai.
Oke selamat datang di era post-milenia dimana semua sudah
berjalan begitu cepat, dunia terasa sempit dan semua orang bisa mengakses
apapun, dimana pun. mereka berselancar di bawah tanah, berselancar di atas langit terbalik, berselancar melewati gelombang, berselancar di antara pagi. Teknologi merajalela semua orang terwakili oleh gadget dan
akun-akun maya, Informasi membanjiri semua lini masa, seperti lalu lintas jalanan Jakarta selepas jam lima petang.
Masih teringat di hari pertama puasa di 2012, untuk kali pertama kalinya menginjak tanah jakarta setelah 6 tahun di ayunan nyaman Jogjakarta. Kota yang membuat kita susah move on untuk pergi darinya. karena jogja terlalu nyaman dengan semua kenangannya. Jakarta adalah list ketiga setelah mencoret dua list kemungkinan yang belum berpihak pada waktu itu.
Reinhold Nieburh dalam doanya
1926, Tuhan, Berikanlah aku kebesaran jiwa untuk menerima hal-hal yang tak
dapat kuubah, keberanian untuk mengubah hal-hal yang dapat kuubah dan kebijaksanaan untuk membedakan keduanya.



