Kamis, 02 Desember 2010

erosi masa transit

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
13 Mei 2009 jam 0:16

Terlepas dari siapa menyisati siapa dan siapa yang tersiasati. Selimut sebra belang senja itu masih menutup rapat mata sebelah kanan yang sedikit merah akibat sindrom insomnia yang sedang marak menjangkit manusia di sekitarku. Ini bukan awal tapi masa pertengahan transit ku setelah beberapa waktu berada di perjalan pendek di jogjakarta stelah menyelesaiakan satu titik cerita ‘waru merah’. Temporari memang karena iktan benang merah memang semu dan tidak jelas. Penanda rasa yang sedang menurun dan akhirnya terputus dan lepas memang harus diakhiri karena aku telah tersiasati oleh manuver peenghianatan. Muncul nama-nam baru dengan aksara urban dengan segala penandanya. Dilihat dari sisi manapun aku ttak bisa menolak dan mengelak. Ya sudah lepaskan mak terlepas dengan tidak rumit sama sekali. Ini bukan perpanjangan cerita tapi sebuah erosi ku dalam pangkalan pos pertengahan dari masa transit saja. Ouw selimut belang tetap menutupi semua mata dan gelap , aku mau tidur.
Aku ta bisa tidur, sial masih ada sisa roko lagi dan pasangan teh anget menggoda untuk tidak tidur, ini hari kedua dari masa ini, dan sudah tidak terbesit tentang sajak waru abang lagi. Mungkin nilai kekebalan waru abang sudah bertambah dan nyaris mati rasa. Dan ajakan menuju wong-ndalan terekam dalam handphone. Yah rencna baru kususun untuk kembali ke cerita lamku saja. Menjadi lebih rumit, dimana status lama dari ceritalamaku masih tertera dalam hubungan dengan orang lain yang terhitung lama. Lalau bagaimana cetita semacam romeo juliet bisa bersimpati dengan lamunan baruku ini. Belum lagi aku tak begitu berpengalaman untuk yang satu ini dibanding dengan orang lama tadi yang lebih menyentuh sisi-sisi sensitive darinya. Ehm aku mulai bersiasat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar